Liabilitas Jangka Pendek, Provisi dan Kontinjensi

LIABILITAS

Definisi liabilitas adalah :

  1. Kewajiban kini yang timbul akibat dari peristiwa masa lalu,
  2. Pelunasannya akan mengakibatkan mengalirnya sumber daya entitas keluar mengikuti manfaat ekonomi yang diperoleh.

 

LIABILITAS JANGKA PENDEK

Liabilitas jangka pendek meliputi beberapa item seperti hutang usaha, biaya yang masih harus dibayar, hutang pajak, pembayaran di muka pelanggan dan lain-lain yang memenuhi kriteria pengakuan liabilitas sesuai PSAK 1 (Revisi 2009). Liabilitas yang timbul dapat didasari atas peristiwa masa lalu yang bersifat kontraktual atau perjanjian kontraktual antara entitas dengan pihak ketiga yang biasa disebut dengan kewajiban kontraktual (cotractual obligations); contohnya adalah hutang usaha yang didasarkan pada kontrak yang lazim berbentuk order pembelian, hutang pajak yang didasarkan atas kewajiban entitas untuk membayar pajak dalam bentuk kepemilikan NPWP. Namun demikian entitas juga harus mengakui kewajiban yang timbul karena praktek masa lalu yang dilakukan entitas yang memberikan ekspektasi kepada pihak lain bahwa entitas akan melakukan hal yang sama di masa sekarang, yang biasa disebut dengan kewajiban konstruktif (constructive obligations). Kewajiban konstruktif contohnya adalah hutang bonus (karena tidak ada kontrak antara entitas dengan karyawannya yang menyebutkan bahwa perusahaan memiliki kewajiban membayarkan bonus).

Pengakuan liabilitas jangka pendek dilakukan dengan jurnal sebagai berikut :

 

Inventory/Expenses                XXX

Accounts Payable                   XXX

Mencatat hutang usaha

 

Expenses                                 XXX

Accrued Expenses                  XXX

Mencatat biaya yang masih harus dibayar

 

Income Tax Expense               XXX

Income Tax Payable                XXX

Mencatat hutang pajak

 

Bonus Expense                       XXX

Bonus Payable                                    XXX

Mencatat beban bonus (kewajiban konstruktif)

 

PROVISI

Provisi adalah liabilitas yang belum pasti jumlah maupun waktunya. Yang membedakan provisi dengan liabilitas jangka pendek lainnya adalah mengenai waktu dan jumlahnya yang belum pasti.

Maka entitas dapat mengakui provisi jika memenuhi 3 kriteria di bawah

 

Yang membedakan dari liabilitas jangka pendek lainnya adalah poin keempat yaitu entitas dapat melakukan estimasi yang handal atas jumlah maupun waktu dari liabilitas (provisi).

Umumnya entitas mengetahui peristiwa masa lalu yang mengakibatkan adanya kewajiban kini. Namun dalam kasus tertentu, dibutuhkan pendapat ahli untuk menentukan kewajiban kini yang timbul. Misalnya : untuk kasus hukum, diperlukan pendapat ahli hukum atau pengacara untuk menentukan jumlah kewajiban dan kemungkinan menang atau kalahnya suatu perkara.

Beberapa contoh provisi adalah sebagai berikut :

  1. Warranty (Garansi)

Warranty expense/liabilities timbul dari peristiwa masa lalu yaitu penjualan produk, megakibatkan timbulnya kewajiban kini yang membutuhkan aliran sumberdaya untuk melunasinya, namun jumlah klaim dan kapan klaim dilakukan masih belum pasti. Maka entitas wajib mencatat provisi dengan dasar pengalaman masa lalu terkait penjualan produk yang sama.

Contoh kasus :

PT ABC menjual produk berupa CD player. Berdasarkan pengalaman masa lalu diperoleh fakta bahwa untuk rata-rata 1000 produk yang dijual dalam setahun :

-          Biaya untuk klaim garansi kerusakan berat adalah sebesar Rp. 10.000.000 dengan probabilitas 10%

-          Biaya untuk klaim garansi kerusakan berat adalah sebesar Rp. 20.000.000 dengan probabilitas 30%

-          Probabilitas pelanggan tidak melakukan klaim adalah 60%.

Dari fakta di atas dapat dihitung estimasi biaya garansi sebesar 10% (10.000.000) + 30% (20.000.000) + 60% (0) = Rp. 7.000.000. dan entitas dapat menjurnal :

 

Warranty Expense                         7.000.000

Warranty Payable (Provisi)                             7.000.000

 

  1. Perkara Hukum (Law Suit)

PT XYZ sedang mengalami perkara pengadilan karena masalah hak cipta dan posisi perkara memberatkan perusahaan. Berdasarkan pendapat hukum pengacara perusahaan didapat 3 kemungkinan hasil dari perkara tersebut sebagai berikut :

-          PT XYZ harus membayar penalty sebesar $ 1,000,000 dalam jangka waktu 2 tahun (probabilitas : 60%, peluang terjadinya paling mungkin).

-          PT XYZ harus membayar penalty sebesar $ 2,000,000 dalam jangka waktu 3 tahun (probabilitas 10%, worst scenario).

-          PT XYZ harus membayar penalty sebesar $ 500,000 dalam jangka waktu 1 tahun (probabilitas 30%, best scenario).

Dengan tingkat bunga diskonto 5%, maka besarnya provisi yang dapat diakui entitas dapat diukur sebagai berikut :

 

Dibulatkan menjadi $ 860,000, maka jurnal yang dicatat adalah :

 

Legal Expense                               860,000

Legal obligation (Provisi)                    860,000

 

  1. Onerous Contract (Kontrak Memberatkan)

Adalah kontrak dimana biaya yang tak dapat terhindarkan untuk melaksanakan kontrak tersebut melebihi manfaat yang diperoleh. Contoh : PT DEF menyewa tanah dan bangunan dari PT RST selama 4 tahun dengan bentuk sewa operasi dan menjalankan produksinya di tempat itu. Pada tahun ke 2, PT DEF karena pertimbangan tertentu memindahkan pabriknya ke tempat lain, namun tidak dapat membatalkan sewa operasi dengan PT RST untuk sisa 2 tahun. Demikian juga PT DEF tidak dapat menyewakan tanah dan bangunan tersebut kepada pihak lain (sublease). Karena kondisi tersebut maka PT DEF dapat mencatat sisa beban sewa 2 tahun tersebut sebagai provisi pada tanggal neraca.

 

  1. Restrukturisasi

Restrukturisasi menimbulkan kewajiban konstruktif berupa pembayaran pesangon untuk karyawan yang di-PHK atau dipindahtugaskan. Entitas dapat mencatat provisi atas kewajiban konstruktif yang timbul jika entitas telah memiliki rencana formal yang detail terkait restrukturisasi yang meliputi :

-          Bisnis atau bagian usaha yang akan ditutup

-          Lokasi utama yang dipengaruhi

-          Lokasi, fungsi, dan perkiraan jumlah tenaga kerja yang diberikan kompensasi atas pemutusan hubungan kerja

-          Pengeluaran yang akan terjadi

-          Saat penerapan rencana tersebut

 

LIABILITAS KONTINJEN

Didefinisikan sebagai : kewajiban yang mungkin terjadi (possible), sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, dan keberadaannya akan dikonfirmasikan dengan terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa depan yang belum pasti dan di luar kendali entitas.

Liabilitas kontinjensi yang bersifat signifikan dan dapat diprediksi (walaupun bukan berupa estimasi yang handal) dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan, sedangkan yang tidak diabaikan.

RANGKUMAN PERBEDAAN PROVISI DAN LIABILITAS KONTINJENSI

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Nelson Lam, Peter Lau, Intermediate Financial Reporting an IFRS Perspective, 1st edition, Mc Graw Hill, Singapore.
  2. Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK) 57 : Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi, Revisi 2009, Ikatan Akuntan Indonesia, Jakarta
This entry was posted in IFRS Corner. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s